Udah gini doang?
Hidup untuk ibadah...
Ada seorang pemuda, usianya 30 tahun. Dari luar ia terlihat seperti orang biasa: bangun pagi, berangkat kerja, pulang sore, lalu malam hari beristirahat. Rutinitas itu terus berulang setiap hari. Hidupnya terasa datar, seperti jalan lurus tanpa pemandangan baru. Kadang ia termenung, bertanya dalam hati, “Hidup ini, kok cuma gini-gini aja, ya?”
Sejak dulu, banyak hal yang ia coba, tapi seakan semuanya berakhir dengan kegagalan. Dalam hal percintaan, hatinya sering patah. Hubungan dengan keluarga pun tak selalu mulus. Karier yang diharapkan bisa berkembang, ternyata hanya jalan di tempat. Bahkan rencana melanjutkan kuliah, yang sudah lama ia impikan, kandas begitu saja.
Semua itu membuatnya merasa kecil, bahkan tak jarang merasa tak berguna. Ia pernah berpikir, untuk apa semua ini? Kalau hidup hanya penuh dengan kegagalan dan kekecewaan, apa masih layak dijalani? Dalam hatinya terlintas, kalau saja bunuh diri bukan dosa besar, mungkin ia sudah lama memilih jalan itu.
Tapi di titik paling gelap sekalipun, ada sesuatu yang selalu menahannya: imannya. Pondasi agama yang sejak kecil ia pelajari membuatnya tetap bertahan. Ia sadar, hidup ini adalah ujian. Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas hamba-Nya. Meski kadang ia goyah, ia percaya bahwa setiap kesulitan pasti ada maknanya.
Hari-harinya kini ia jalani dengan cara sederhana. Ia tak lagi banyak menuntut hidup harus indah seperti orang lain. Baginya, cukup bekerja dengan tenang, beribadah dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan. Ia paham, mungkin jalannya memang berbeda. Mungkin Tuhan belum memberikan yang ia minta, karena sedang menyiapkan yang lebih baik.
Ada saat-saat ia masih merasa sepi, masih merasa kalah. Namun di balik itu semua, ia belajar satu hal penting: bertahan pun sudah sebuah kemenangan. Selama ia masih diberi kesempatan untuk bernapas, berarti hidupnya masih punya arti.
Dan di sanalah ia menemukan sedikit ketenangan. Hidup memang tidak selalu sesuai rencana, tapi bukan berarti tidak ada harapan. Selama masih ada iman, masih ada arah untuk melangkah.
Komentar
Posting Komentar