Ketika yang Dekat Jadi Asing: Refleksi dari Hubungan yang Mendadak Hilang
Ada yang datang membawa cahaya, lalu pergi tanpa pesan. Dan saya hanya bisa menebak-nebak, apa saya terlalu terang, atau justru tidak cukup menyala?
Pernahkah seseorang hadir dalam hidup Anda begitu dekat, lalu tiba-tiba menghilang tanpa alasan yang jelas?
Saya pernah.
Kami pernah sangat akrab. Berbagi tawa, cerita, dan rahasia yang bahkan tidak pernah saya ungkapkan pada siapa pun sebelumnya. Rasanya seperti bertemu kawan lama yang tertukar oleh waktu, padahal baru kenal sebentar.
Namun secepat itu pula semuanya berubah.
Tanpa peringatan, tanpa penjelasan. Dia pergi.
Bukan hanya menjauh, tapi memutus semua akses saya untuk sekadar tahu kabarnya. WhatsApp? Diblokir. Instagram? Tidak bisa ditemukan lagi. Seolah keberadaan saya dihapus dari hidupnya.
Dan itu menyakitkan.
Bukan karena kami harus berakhir, tapi karena saya tidak pernah diberi kesempatan untuk memahami kenapa. Saya tidak tahu kesalahan saya apa. Yang saya tahu hanya satu hari dia bersikap biasa saja, lalu hari berikutnya, dunia kami seakan runtuh tanpa penjelasan.
"The worst thing about being lied to is knowing you weren’t worth the truth."
– Jean-Paul Sartre
Saya bukan ingin memaksakan hadir di hidupnya lagi. Tidak. Saya hanya ingin tahu kabarnya. Saya hanya ingin tahu, apakah dia baik-baik saja, apakah ia masih tertawa seperti dulu.
Sayangnya, semua sudah tak mungkin.
Dia telah memilih untuk menjauh bukan dengan langkah kaki, tapi dengan dinding-dinding digital yang tak bisa saya lewati. Dan saya di sini, hanya bisa menerka-nerka, mengulang percakapan lama, memutar kembali kenangan-kenangan yang pernah membuat saya merasa pulang.
“Some people aren’t loyal to you, they are loyal to their need of you. Once their needs change, so does their loyalty.”
– Trent Shelton
Yang paling membuat hati berat bukan kehilangan tapi dihukum atas kesalahan yang tidak pernah saya pahami. Ditinggalkan seolah semua salah saya. Seolah saya yang membuatnya marah, tanpa tahu di mana letak kemarahan itu bermula.
Tapi saya juga belajar satu hal:
Tak semua orang hadir untuk dijaga selamanya. Ada yang hanya datang sebagai pelajaran bahwa tidak semua hubungan bisa diselamatkan, bahkan ketika kita benar-benar ingin memperbaikinya.
Kini, saya hanya bisa menatap hari-hari yang kosong dari kabarnya.
Menuliskan ini pun sebenarnya bukan untuk mengundangnya kembali, tapi untuk menyembuhkan diri sendiri. Agar saya bisa mengikhlaskan, tanpa harus membenci.
Karena sesakit-sakitnya ditinggal tanpa alasan, lebih menyakitkan lagi jika kita terus menunggu penjelasan yang tak akan pernah datang.
“Letting go means to come to the realization that some people are a part of your history, but not a part of your destiny.”
– Steve Maraboli
Dan saya yakin, yang pernah ada tak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal di lipatan-lipatan kenangan, di antara doa-doa yang diam-diam saya selipkan. Nama nya akan tetap bergema disetiap doa saya.
Komentar
Posting Komentar